Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Ciri-ciri hubungan cinta yang sempurna

Ciri-ciri hubungan cinta yang sempurna

Seneng Terus
Awal-awal jadian, pasti semua pasangan ngerasa jadi manusia paling bahagia di muka bumi ini. Raut wajah kita seolah memancarkan aura kebahagiaan yang mahadahsyat. Ditambah lagi, seharian pikiran kita pasti melayang ke si dia. Mau makan—ingat dia, mau belajar¬ingat dia, pokoknya di mana dan ke mana pun kita, si dia selalu terbayang. Tapi, saat masuk bulan kedua, mulai, deh, terlihat hal-hal nyebelin. Nah, jadi yang perlu diingat adalah bahwa pacaran itu nggak cuma sekadar kirim SMS romantic dan mengumbar kata-kata sayang. Kalau si dia mulai memancing perselisihan, anggap saja sebagai bumbu cinta. Tapi, kalau ternyata banyakan sedihnya, insomnia gara-gara mikirin dia, bahkan moody, itu pertanda bahwa hubungan yang sedang dijalani nggak sehat.
Saling Menguntungkan
Hubungan cinta yang balk seharusnya bisa jadi kolaborasi menguntungkan di antara dua orang yang terlibat, balk secara fisik maupun emosional.
Saling Mengisi
Kalau nggak ada dia, rasanya ada yang kurang, begitu juga sebaliknya. Tapi kalau sampai satu minggu nggak ketemu dia, dan rasanya kayak nggak ada yang hilang, hampir bisa dipastikan hubungan ini nggak lama lagi bakal berakhir.
Romantisme
Seberapa sering, sih, dia nelepon atau SMS? Dia perhatian nggak, sih, sama kita? Ingat, pacaran bukan hanya sebuah status, loh. Kalau benih-benih cinta yang dulu kita tanam waktu pedekate ternyata belum juga bisa dipanen, itu tandanya kita harus mulai waspada.

Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara

Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara

Yang dimaksud dengan masa Islam di Indonesia adalah masa sejak kedatangan Agama Islam di Indonesia sampai dipeluk oleh masyarakat Indonesia. Kurun waktu masyarakat Indonesia untuk memeluk agama Islam diperkirakan dari abad ke- 11 sampai ke-17 Masehi. Adapun abad-abad setelah itu merupakan pengembangan Islam di Indonesia.
Untuk mengetahui daerah dan kerajaan yang lebih dahulu memeluk agama Islam dapat diketahui melalui bukti-bukti sejarah berikut ini.
1.Sejarah Dinasti Yuan (1280-1376) yang melaporkan pertemuan duta Cina dengan dua orang menteri dari Kerajaan Samudera Pasai. Pertemuan itu terjadi di QuiIon. Kedua menteri itu bernama Hasan dan Sulaiman. lni merupakan bukti bahwa Kerajaan Samudera Pasai sudah beragama Islam.
2.Laporan Marcopolo. seorang perantau dari Venesia (Italia) pada tahun 1292 M. Marcopolo tertahan selama lima bulan di Samudera Pasai yang penduduknya sudah beragama Islam. Berita dari Marcopolo ini menunjukkan bahwa agama Islam telah masuk ke Samudera Pasai sebelum tahun 1292 M.
3.Yin Yai Sheng Lan atau laporan umum tentang pantai-pantai lautan merupakan laporan yang ditulis oleh seorang Cina Muslim bernama Ma Huan dan diterbitkan pada Tahun 1416.
Untuk mengetahui lebih terinci tentang proses masuknya agama Islam mulai dari Barat hingga Timur di Kepulauan Nusantara ini, marilah kita perhatikan uraian berikut.
1. Kepulauan Sumatera
Masuknya Islam di Sumatera adalah dengan jalan damai. Di antaranya dengan cara para mubalig (penyampai dan penyebar agama Islam) menikahi penduduk lokal dan kemudian Islam berkembang secara turun-temurun sehingga lama-kelamaan bisa mendirikan kerajaan yang bercorak Islam. Dalam catatan sejarah yang bersumber dari Dinasti Yuan menyatakan bahwa kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Kerajaan Samudera Pasai.
Dalam Dinasti Yuan (1280-1367 M) telah dicatat bahwa ada pertemuan antara utusan kaisar Cina dengan dua menteri dari Kerajaan Samudera Pasai di Quilon. Nama kedua menteri itu adalah Hasan dan Sulaiman. Kerajaan Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan di pantai timur Pulau Sumatera (sekarang adalah sebuah desa di Kecamatan Geudong, Kabupaten Aceh Utara, NAD). Dan catatan tersebut dapat diartikan bahwa antara tahun 1280-1367 M Kerajaan Samudera Pasai telah memeluk Islam.
Bukti lain yang dapat digunakan sebagai bukti adalah ditemukannya makam Malik Al Saleh yang merupakan raja Kerajaan Samudera Pasai. Pada batu nisan, bagian kaki makam tersebut terdapat tulisan Arab yang artinya inilah kubur orang yang mendapat rahmat dan ampunan allah.. Bergelar Sultan Malik AI-Saleh. Sedangkan di bagian kepala nisan makam tersebut terdapat tulisan /a mangkat pada bulan Ramadhan tahun hijriyah 696. Tahun 696 H sama dengan tahun 1297 tV1. Dengan demikian sebelum tahun 1297 tersebut raja Kerajaan Samudera Pasai dapat dipastikan sudah menganut Islam atau beberapa saat sebelum is meninggal.
Selain bukti-bukti tersebut, masih ada bukti lain yaitu ditemukannya batu nisan bertuliskan huruf Arab di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar yang berangka tahun 608 H (1209 M) lebih tua sekitar 8 tahun daripada makam Malik Al-Saleh.
Kecuali bukti tersebut, masih ada bukti lain yaitu berupa prasasti yang diketemukan di Desa Pananggahan, Kecamatan Barus, Kabupaten SiboIga, Sumatera Utara yang menceritakan kematian seorang puteri bangsawan yang meninggal pada 19 Safar tahun 602 H (1203 M) atau sekitar 7 tahun lebih tua dari makam Sultan Malik Al-Saleh.
2.Pulau Jawa
Islam masuk ke Jawa melalui pesisir utara. Sebagai bukti masuknya Islam di Jawa ini adalah ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 H atau 1082 M di Desa Liran, Kecamatan Manyar, Gresik. Liran adalah nama sebuah tempat di Persia, sedangkan Hibatullah adalah nama sebuah dinasti di Liran. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Fatimah adalah cucu penguasa di Liran, Persia.
Di Grsik juga ditemukan prasasti yang jauh lebih muda usianya yang terdapat pada makam Malik Ibrahim dari Kasyan. la meninggal pada tahun 822 H (1419 M). Makamnya terbuat dari batu pualam yang merupakan makam buatan Cambay. Gujarat (India Selatan). Masyarakat mengenal tokoh tersebut dengan nama Maulana Malik Ibrahim. Padahal nama yang terpahat di makamnya adalah Malik Maulana Ibrahim. Melihat asal usulnya beiiau ini berasal dari Persia, sebab kata Kasyan di belakang namanya adalah suatu tempat di Persia.
Berdasarkan prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa pembawa Islam di Pulau Jawa adalah orang-orang Persia. Jika kita bandingkan angka-angka tahun pada makam-makam di Sumatera dan Jawa maka proses Islamisasi Islam di Jawa lebih awal 127 tahun daripada di Sumatera.
3.Pulau Kalimantan
a.Kalimantan Barat
Di Kalimantann Barat, sekitar Pontianak, Islam disiarkan oleh bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdul Rahman pada abad ke-18. yang kemudian menjadi penguasa di Pontianak. Hal ini terbukti dengan adanya makam. masjid, dan istananya yang masih ada sampai sekarang.
Di Ketapang tepatnya di Desa Muljakerta terdapat pemakaman Islam Kuna yang tujuh pasang batu nisannya dipahat timbul dengan angka tahun Jawa Kuna. Bentuk batu nisannya sama dengan batu nisan Majapahit, bahkan ada sebuah yang berhias lambang surya Majapahit. Angka tahun yang tertua adalah tahun 1340 Saka (1418 M) dan angka tahun 1363 Saka (1441 M).
Dari temuan tersebut dapat diduga bahwa agama Islam sudah masuk sebelum tahun 1418 M
atau abad ke-15 M. Dengan adanya lambang surya Majapahit tersebut diduga penyebar agama Islam di Kalimantan Barat berasal dari Majapahit atau masih kerabat dekat keraton Majapanit.
b.Kalimantan Tengah
Di Provinsi Kalimantan Tengah pada abad ke-14 M terdapat dua kerajaar yang berdaulat yaitu kota Waringin dan Samba. Di kota Waringin agama Islam disebarkan oleh Ki Gede, seorang ulama pengikut Pangeran Dipati Antakusuma dari kesultanan Banjarmasin pada abad ke-18 dan is mendirikan masjid
di sana, yang oleh masyarakat masjid tersebut diberi nama Masjid Ki Gede. Di dalam masjid tersebut terdapat sebuah bedug yang merupakan bagian dari kebudayaan Jawa. Pada bagian badan bedug tersebut terdapat tulisan isanaiscara 1356 yang artinya pada hari Sabtu tahun 1356 Saka, atau tahun 1434 M.Dengan adanya bukti tersebut berarti Islam telah berkembang di kota Waringin pada awal abad ke-14 Saka atau 15 M.
c.Kalimantan Selatan
Islamisasi di Kerajaan Banjar ini bersifat politis dan resmi. Proses Islamisasi di Kalimantan Selatan terjadi ketika pecah perang saudara antara raja dan p’utera mahkota kerajaan Banjarmasin. Ketika itu kerajaan masih bercorak Hindu pada tahun 1595. Pada saat itu Raja Tumanggung memerintah dengan kejam. Dan keponakannya yang bernama Pangeran Samudera tidak suka dengan gaya kepemimpinan pamannya yang kejam tersebut Kemudian Pangeran Samudera memberontak. Karena tidak mampu mengimbangi tentara kerajaan maka akhirnya Pangeran Samudera minta bantuan kepada Sultan Demak di Jawa Tengah yang saat itu Demak merupakan kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa. Sultan Demak bersedia membantu Pangeran Samudera dengan syarat Pangeran Samudera dan pengikutnya mau masuk agama Islam. Setelah persyaratan disetujui maka dikirimlah ekspedisi tentara Islam Demak ke Banjarmasin dengan disertakan di dalamnya seorang khatib yang bernama Dayyan. Dalam serangan itu Pangeran Temanggung dapat dikalahkan. Pangeran Samudera diangkat menjadi raja dengan gelar Sultan Suriansyah. la memerintah dari tahun 1595 hingga 1620 M.
d.Kalimantan Timur
Penyebaran Islam di Kalimantan Timur terjadi pada masa Kerajaan Kutai. yaitu pada masa pemerintahan Raja Mahkota (1575-1610 M). Raja Mahkota adalah raja keenam yang memerintah di Kerajaan Kutai dan is belum memeluk agama Islam.
Dalam silsilah Kutai disebutkan bahwa agama Islam masuk ke Kerajaan Kutai dari Makasar. Agama Islam dibawra dua penyair agama dari Minangkabau yang bernama Tuan Haji Bandang dan Tuan Haji Tunggangparangan. Mula-mula kerajaan yang di-Islamkan dengan seorang temannya adalah Kerajaan Makasar. Setelah Islam berkembang di Makasar, lalu keduanya melanjutkan dakwahnya ke Kerajaan Kutai. Sedangkan seorang temannya tetap di Makasar untuk mengawasi perkembangan Islam di sana.
Setelah sampai di Kerajaan Kutai. kedua dai tersebut menemui Raja Mahkota dan mengutarakan maksud kedatangannya. Raja Mahkota memberikan Izin dengan syarat mereka berdua dapat mengalahkannya dalam adu kesaktian. Ternyata Raja Mahkota kalah dan kemudian is memeluk agama Islam, yang kemudian diikuti oleh rakyatnya.
4. Sulawesi
Sejarah masuknya agama Islam dimulai di Makasar, Goa. Tallo, dan Sulawesi Selatan. Sejak dahulu di Sulawesi Selatan telah berdiri beberapa kerajaan. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut adalah Makasar, Gowa, Tallo, dan Bone. Namun yang paling awal memeluk agama Islam adalah raja dan masyarakat Gowa-Tallo.
Bukti bahwa agama Islam telah masuk ke Sulawesi adalah sebuah naskah yang disebut Lontara Bilang. Naskah ini semacam buku harian atau catatan tentang raja-raja Gowa dan Tallo sejak tahun 955 H (1545 M) sampai dengan bulan Zulhijjah tahun 1168 H atau 1 November 1755 M. Dalam naskah Lontar Bilang dicatat peristiwa-peristiwa peng-Islaman di Sulawesi Selatan, sebagaimana berikut ini.
a.Hari Jumat, 9 Rabiul Awwal tahun 1012 Hijriyah (22 September 1603 M) Kanjeng Matoaya, raja keempat dari Tallo masuk Islam yang kemudian bergelar Sultan Alauddin.
b.Hari Jumat bulan Rajab tahun 1016 H (9 November 1607 M). Kerajaan Makasar diproklamasikan sebagai kesultanan Islam. Daerah-daerah lain yang tidak bersedia memeluk Islam akan diperangi dan dianggap sebagai Mussu’ selleng (musuh Islam).
c.Tanggal 10 Safar tahun 1019 H (10 Mei 1610 M), Soppeng di-Islamkan dalam Perang Pangkajene.
d.Hari Selasa, tanggal 23 Ramadan 1020 (23 November 1611 M) Kerajaan Bone dan Kerajaan Wajo masuk Islam.
Dan catatan tersebut menunjukkan bahwa Islam di Sulawesi secara perseorangan sudah ada sejak sebelum tahun 1603 M.
Para dai yang datang ke Sulawesi Selatan umumnya berkelompok, di antaranya adalah sebagai berikut.
a.Kelompok dai dari Demak, Tuban, Giri (Gresik), dan Ternate. Ternate termasuk kelompok ini karena merupakan bagian dari sejarah penyebaran Islam di Gresik. Sultan Ternate yang bernama Zainal Abidin adalah murid Sunan Giri.
b.Kelompok dai dari Demak Minangkabau yang dikenal dengan sebutan Da’to Tallua atau Dato’ Tiga Orang. Mereka itu adalah Dato’ Ribandang alias Abdul Makmur alias Khatib Tunggal. Makam Dato’ ini berada di Ujung Pandang. Menurut tradisi Kutai, Datu’ Ribanciang disebut Haji di Bandang. Dato’ Ri Tiro alias Badul Jawad alias Khatib Bungsu yang makamnya di Tiro dekat Bulukumba. Dato’ Ri Pattimang alias Sulaiman alias Khatib Suiting yang ketika di Ternate disebut dengan nama Tuan Haji Tunggangparangan. Makamnya berada di Pattimang, Amassang, Kecamatan Malangke, Luwu.
Kecuali dari para dai tersebut ada para dai perseorangan yang datang dari Aceh, Melayu (Johor, Pahang), Patani (Thailand dan Campa).
5. Maluku
Menurut cerita rakyat, pada abad ke-8 mendatang empat orang mubalig dari Irak yang menganut paham syiah. Empat mubalig tersebut di antaranya Syeh Mansur Syeh Yakub, Syeh Amin, dan Syeh Umar. Dalam versi lain dinyatakan bahwa pembawa Islam di Ternate adalah Jafar Shidiq alias Jafar Nuh. la datang di Ternate dad Jawa pada hari Senin tanggal 6 Muharram 643 H (1250 M). Sedangkan menurut catatan Antoni Galvao,agama Islam masuk ke Ternate sekitar tahun -1460 M. Pembawanya adalah pedagang dari Malaka yang datang ke Ternate untuk membeli rempah-rempah. Berdasarkan laporan-laporan tersebut dapat disimpulkan bahwa Maluku bagian utara lebih dahulu dimasuki agama Islam daripada Maluku bagian selatan. Waktu IslarnIsasi diperkirakan pada abad ke-15 M.
Cara Masuknya Islam Di Indonesia
Islam masuk di Indonesia melalui beberapa cara, diantaranya adalah sebagai berikut. Cara perdagangan yang terjadi pada tahap awal masuknya Islam ke indonesia.
  • Cara perkawinan yang umumnya terjadi setelah pedagang muslirnyang datang ke Indonesia menikah dengan wanita pribumi. Sebelum menikah biasanya sang wanita diminta untuk mengucapkan kalimah syahadat sebagai tanda is teiah menerima dan masuk Islam.
  • Cara pendidikan yang umumnya dilakukan di pesantren-pesantren yang didirikan oleh para muballigh atau kyai di Indonesia. Beberapa pesantren yang terkenal adalah Pesantren sunan Giri, yang kebanyakan muridnya dari Maluku dan pesantren Ampel Denta.
  • Cara Tasawuf, yaitu dengan ajaran-ajaran atau cara untuk mendekatkan diri pada Allah. Cara ini lebih mudah diterima oleh orang -orang yang sudah mempunyai pemahaman tentang ketuhanan. Diantara tokoh tasawuf tersebut yang terkenal adalah Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar Raniri.
  • Peanan para Wali khususnya di Jawa dan Maluku Para Wall ini bertindak sebagai juru dakwah, penyebar dan perintis agama. Cara yang digunakan para Wall dalam menyebarkan ajaran Islam ada bermacam-macam. Ada yang melalui kegiatan dakwah, seni wayang, kerawitan atau melalui tasawuf. Sunan Kalijaga dan Sunan Panggung berdakwah melalui wayang,

Asal Usul Kota Kudus

Asal Usul Kota Kudus

Cerita rakyat kali ini saya mengangkat mengenai asal usul kota kudus. cerita rakyat ini berasal dari jawa tengah. untuk lebih jelasnya silakan simak cerita ini.
Kota Kudus yang sekarang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat H Kudus di Provinsi Jawa Tengah, pada zaman dahulu hanyalah sebuah desa kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Kedudukannya tidak dianggap penting, kecuali sebagai salah satu tempat persinggahan lalu lintas ekonomi dari pelabuhan Jepara ke pedalaman Majapahit dan sebaliknya.
Pada suatu saat, bermukimlah ke desa kecil itu seorang pedagang Cina bernama Sun Ging. Selain berdagang, Sun Ging yang ahli ukir itu mengembangkan keterampilannya mengukir sehingga banyaklah orang belajar mengukir di rumahnya. Lama-lama keahlian Sun Ging tersiar sampai ke istana Majapahit sehingga dipanggillah Sun Ging untuk mengukir hiasan-hiasan keraton. Setelah pekerjaan besar itu terselesaikan dengan baik dan memuaskan, ditanyalah Sun Ging oleh sang Raja.
“Hadiah apakah yang engkau inginkan dari Majapahit?”
“Sekiranya diizinkan, berilah hamba sebidang tanah di tempat hamba bermukim selama ini, biarlah hamba kelak mencangkulinya.”
“Mengapa tidak memohon hadiah emas permata atau putri Majapahit yang cantik jelita?” tanya sang Raja kemudian.
“Pada pendapat hamba, sebidang tanah itu sudah sangat berharga bagi hamba sendiri. Tanah itu kelak dapat dicangkuli sampai menghasilkan emas permata. Dengan demikian, hamba tak perlu kembali ke negeri asal yang jauh.”
“Jika tak hendak kembali ke tanah asalmu, apakah engkau sanggup berbakti kepada Majapahit?” kata sang Raja seolah ingin menguji kesetiaan Sun Ging.
“Sekiranya diizinkan, hamba ingin mengabdi sepenuh hati,” jawab ahli ukir itu dengan harapan akan segera menerima hadiahnya.
Setelah menerima piagam hadiah itu, dengan gembira dan bangga Sun Ging memohon izin kembali ke desanya dengan niat mendirikan sebuah perguruan ukir. Ternyata niat itu pun terkabul, terbukti dengan semakin banyaknya orang yang belajar mengukir di perguruan itu. Kemudian, desa itu terkenal dengan nama Sunggingan, karena berasal dari nama pemiliknya Sun Ging, sedangkan akhiran -an berarti tempat tinggal. Jadi, Sunggingan berarti tempat tinggal keluarga Sun Ging.
Akan tetapi, cerita lain menyebutkan bahwa nama Sunggingan itu berarti tempat orang-orang menyungging yang berarti melukis atau mengukir. Dalam bahasa Jawa, juru sungging berarti ahli lukis atau tukang ukir. Dalam cerita ini disebutkan bahwa pemilik Sunggingan ialah The Ling Sing, yaitu seorang pedagang Cina yang dalam cerita terdahulu bernama Sun Ging.
Keramaian ekonomi desa Sunggingan ternyata terus berkembang walaupun pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur sudah tak terdengar kabarnya. Hal itu memikat perhatian Raden Patah yang sudah berhasil mendirikan Kerajaan Islam Demak Bintoro di Demak yang tak jauh dari desa itu.
“Desa Sunggingan itu kelak dapat menjadi sebuah kota besar yang penting di dekat Jepara yang sudah berkembang sebagai pelabuhan. Oleh karena itu, perlu segera di islamkan agar dapat mendukung perkembangan Demak Bintoro,” pikir Raden Patah.
Tak lama kemudian, diperintahkanlah kepada Syekh Jafar Sodiq, seorang ulama besar dari Persia, untuk mengislamkan Sunggingan.
Mendengar perintah itu berkemaslah Syekh Jafar Sodiq hijrah dari Demak Bintoro ke desa Sunggingan dengan beberapa orang santri terdekatnya. Sesampai di sana terlihatlah sebuah bangunan pintu gerbang Kerajaan Majapahit yang sudah tidak dipelihara orang. Hal itu justru memberikan ilham bagi Syekh Jafar Sodiq untuk memugarnya kembali agar memikat simpati masyarakat setempat yang masih memeluk agama Hindu sebagai warisan kebesaran Majapahit.
Pada mulanya di gerbang atau gapura itulah Syekh Jafar Sodiq mengundang masyarakat untuk men-dengarkan ajaran-ajaran baru yang disebut Islam. Caranya ialah dengan menambatkan seekor sapi jantan yang gemuk di dekat gerbang itu. Masyarakat pun tertarik menyaksikan sapi yang merupakan hewan terhormat dalam agama Hindu. Setiap kali orang berkerumun di tempat itu, berkhotbahlah Syekh Jafar Sodiq untuk mengajak masyarakat memeluk Islam. Berkat kesabaran, keramahan, dan kewibawaan pribadinya maka dalam waktu singkat sebagian besar penduduk Sunggingan telah memeluk agama Islam, termasuk The Ling Sing sendiri yang kemudian bergelar Kiai Telingsing. Bahkan, Syekh Jafar Sodiq pun akhirnya bermukim di sana dan kelak terkenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Sebagai tokoh syiar Islam yang berasal dari negeri asing, wajarlah Syekh Jafar Sodiq membawa-bawa keagungan atau kebesaran negerinya sendiri. Hal itu diperlihatkannya dalam membangun sebuah mesjid di dekat gerbang atau gapura desa itu. Pada bagian kiblat mesjid itu dihiasi lempengan-lempengan batu hitam yang berasal dari negeri Persia yang dipersamakan dengan batu Hajar Aswad di Kakbah. Hiasan itu disebutnya Al Kuds yang berarti suci atau keramat. Tak lama kemudian, mesjid itu pun dikenal masyarakat sekitarnya dengan sebutan mesjid Kudus, yaitu sebuah mesjid yang dihiasi lempengan-lempengan batu AlKuds atau batu-batu yang suci.
Apa yang diramalkan Raden Patah ternyata menjadi kenyataan. Setelah Syekh Jafar Sodiq bermukim di desa Sunggingan dan berhasil membangun sebuah pesantren, berkembanglah desa atau wilayah itu. Semakin banyaklah orang dari berbagai daerah lain yang berniat belajar mengaji dan mencari kehidupan baru dengan bertani, berdagang, mengukir, dan sebagainya. Desa Sunggingan yang dirintis oleh The Ling Sing berkembang menjadi pesantren dan kota yang oleh penduduk setempat disebut Kudus, dan Syekh Jafar Sodiq pun kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Gerbang atau gapura Majapahit yang telah dipugar oleh Syekh Jafar Sodiq ternyata menjadi salah satu ciri khas kota Kudus. Bangunan itu terkenal dengan sebutan Menara Kudus, aslinya berada di dekat mesjid Sung¬gingan, sedangkan tiruannya didirikan di depan sebuah pusat perbelanjaan kota Kudus. Tempat lain yang bersangkutan dengan asal usul kota itu ialah makam Kiai Telingsing yang nama aslinya The Ling Sing. Makam itu terdapat di desa Sunggingan, sekarang hanya sebuah desa di dalam wilayah kota Kudus yang semakin semarak perkembangannya.
Kesimpulan
Cerita ini termasuk legenda karena tokoh-tokohnya diyakini pernah hidup pada masa lampau. Nama Sunan Kudus jelas merupakan salah seorang tokoh legendaris dalam sejarah Islam di Jawa dalam hubungannya dengan Wali Sanga yang sudah dikenal orang banyak.
Cerita tentang asal usul berdirinya sebuah kota sudah termasuk langka, padahal biasanya mengandung amanat yang bermanfaat bagi masyarakat masa kini. Misalnya saja. mengingatkan masyarakat bahwa tempat-tempat tertentu yang sekarang menjadi kota besar itu pada zaman dahulu hanyalah desa-desa yang sederhana. Oleh karena itu, orang kota janganlah memandang rendah orang desa.
Cerita ini pantas dilestarikan karena menyadarkan kita semua akan manfaat sebidang tanah yang dapat menjadi sumber kehidupan. Jadi, kita semua perlu mengolahnya dengan bali agar bermanfaat bagi kehidupan. Dengan perkataan lain, janganlah menyia-nyiakan bumi pertiwi.